Senin, 18 Maret 2013

Makalah Badai Tropis



ABSTRAK
Fenomena-fenomena alam yang terjadi di bumi ini  salah satunya adalah badai. Dari beberapa jenis badai, salah satu jenisnya yaitu badai tropis. Badai tropis ini merupakan pusaran angin yang terjadi di  perairan luas yang berada di daerah tropis. Sumber utamanya yaitu proses kondensasi (mengembunnya kandungan uap air) pada udara lembab yang bergerak naik ke ketinggian atmosfer yang dingin. Pada proses kondensasi, uap air akan melepas energi panas kandungannya. Energi panas yang dilepaskan oleh uap air akan terkumpul menjadi energi penggerak dari badai tropis.
Walaupun terjadi di daerah tropis, wilayah Indonesia yang tepat berada di khatulistiwa tidak pernah dilanda badai tropis. Hal ini dikarenakan faktor korioli. Faktor korioli merupakan faktor yang disebabkan oleh pergerakan angin. Karena pengaruh rotasi bumi, angin yang seharusnya bergerak lurus jadi berbelok sehingga apabila badai tropis terjadi, akan terbawa ke daerah lain yang di luar khatulistiwa, yaitu daerah yang berada pada lebih dari 10oLU dan 10oLS. Namun, dapat terjadi kemungkinan bila wilayah Indonesia terkena pengaruhnya. Bisa saja wilayah khatulistiwa terkena, tetapi hanya bagian ekornya saja. Walau begitu, daerah yang dilanda ekor badai tropis akan terkena kerusakan parah. Sehingga untuk mencegahnya, diperlukan pemahaman lebih mengenai badai tropis.











Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis ucapkan atas segala rahmat dan karunia Sang Pencipta, Allah SWT yang telah diberikan kepada penulis, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Tanpa segala campur tangan-Nya, makalah ini tidak dapat diselesaikan oleh penulis. Selain itu, ucapan terima kasih penyusun  sampaikan pula kepada beberapa pihak yang telah membantu memberikan aspirasinya dalam penyusunan makalah ini.
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan wawasan yang lebih mendalam kepada para pembaca mengenai badai tropis, sehingga apabila terdapat tanda-tanda terjadinya badai tropis dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi dampak dari badai tropis sehingga dapat mengurangi potensi kerugian dan korban.
Selayaknya manusia pada umumnya, kami pun tentunya memiliki kelemahan. Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini tidak sepenuhnya sempurna, sehingga kami mohon saran dan kritik yang membangun demi perbaikan makalah ini. Atas kritik dan sarannya, kami ucapkan terima kasih.
Bandung,     November 2012

Penulis

DAFTAR ISI
ABSTRAK  ……………………………………………………………………   i
KATA PENGANTAR  …..……………………………………………………   ii
DAFTAR ISI  …………………………………………………………………   iii
BAB I PENDAHULUAN  ……………………………………………………   1
1.      Latar Belakang …………….………………………………………   1
2.      Rumusan Masalah  ...………………………………………………   2
3.      Tujuan Penulisan ………..…………………………………………   2
4.      Metode Penulisan ………….………………………………………   3
5.      Manfaat Penulisan …………………………………………………   3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA  …...…………………………………………   4
1.      Pengertian Badai Tropis…...…………………………………………      4
2.      Penyebab Terjadinya Badai Tropis…………………………………      4
3.      Proses Terjadinya Badai Tropis………..……………………………     6
4.      Penyebab Matinya Badai Tropis……….……………………………     6
5.      Wilayah Indonesia……………………………………..…………….       7
BAB III PEMBAHASAN ……………………………………..…………….     9
BAB IV PENUTUP …………..………………………………..…………….    15
Simpulan ……………………….………………………………..…………….   15
Saran ……………………………………………………..…………………....   17
DAFTAR PUSTAKA  ……….……………………………………..…………….    18
LAMPIRAN ………..……………………………………..……………………......   19





BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang Masalah

Sejak dahulu hingga sekarang bumi kita sudah banyak mengalami fenomena-fenomena alam baik fenomena yang biasa hingga fenomena yang luar biasa. Fenomena alam tersebut merupakan suatu kejadian yang bisa terjadi di suatu tempat, salah satu dari fenomena alam tersebut adalah badai tropis.
Badai tropis diakibatkan oleh salah satu faktor yaitu perbedaan suhu udara dan permukaan laut. Selain itu badai tropis juga sangat tergantung pada letak geografis suatu daerah. Sebab letak daerah tersebut akan berpengaruh pada proses terbentuknya badai tersebut.
Karena sifat badai tropis yang seperti itu,  maka ada kemungkinan badai tropis juga dapat terjadi di Indonesia. Sebab di Indonesia sendiri wilayahnya sebagian besar adalah daerah perairan, sedangkan badai tropis muncul dari perairan seperti lautan. Akan tetapi, kenyataannya Indonesia jarang mengalami badai tropis. Hal itu yang membuat penulis ingin mencari tahu faktor-faktor apa yang mempengaruhi jarangnya Indonesia mengalami badai tropis. Oleh karena itu, penulis menyusun makalah ini dengan judul “Benarkan Badai Tropis Tidak Terjadi di Indonesia?”


2.    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut.
2.1.   Mengapa di Indonesia jarang terjadi badai tropis?

3.    Tujuan Penulisan

Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
3.4.    Memberikan informasi mengenai sebab-sebab di Indonesia jarang terjadi badai tropis


4.    Metode Penulisan

Dalam menulis makalah ini, penyusun menggunakan metode kajian pustaka yang telah ada, yang diperoleh berdasarkan beberapa literatur yang berasal dari perpustakaan dan media internet. Melalui metode ini penulis menguraikan permasalahan yang dibahas secara jelas dan komprehensif. Data teoretis dalam makalah ini kemudian dikaitkan dengan kenyataan yang terjadi di permukaan bumi. Setelah itu membandingkan pula dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di wilayah Indonesia.

5.    Manfaat Penulisan

Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoritis maupun secara praktis, makalah ini diharapkan bermanfaat bagi penulis, sebagai wahana penambah pengetahuan. Serta bagi pembaca dan masyarakat umum, sebagai media informasi dan penambah wawasan masyarakat di era globalisasi ini. Dengan diperolehnya informasi mengenai badai tropis ini, maka diharapkan para pembaca dapat lebih memahami pergerakan badai tropis serta memahami dampak yang bisa ditimbulkannya, sehingga kita dapat melakukan upaya antisipasi untuk mencegah kerugian lebih besar bila Indonesia mendapat pengaruh dari badai tropis ini.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.    Pengertian Badai Tropis
Badai tropis atau umumnya disebut siklon tropis adalah fenomena alam berupa pusaran angin, hujan dan badai petir dalam suatu daerah tertutup. Siklon tropis hanya dapat tumbuh dan berkembang di atas wilayah perairan tropis dan sub tropis yang hangat dengan kelembaban udara tinggi. Di seluruh dunia terdapat sejumlah wilayah–wilayah perairan tempat tumbuh dan berkembangnya siklon tropis dengan pola musiman yang khas di setiap wilayah.
Menurut metereologi Badai Tropis merupakan pusaran angin tertutup pada suatu wilayah bertekanan udara rendah. Kekuatan angin yang terjadi pada Badai Tropis dapat mencapai kecepatan lebih dari 128 km/jam dengan jangkauan lebih dari 200 Km dan berlangsung selama 6 hari hingga 2 minggu.
2.    Penyebab Terjadinya Badai Tropis
Sumber utama energi raksasa penggerak badai tropis berasal dari proses kondensasi yakni yakni mengembunnya kandungan uap air pada udara lembab yang bergerak naik ke ketinggian atmosfer yang dingin. Pada proses kondensasi, uap air akan melepas energi panas kandungannya. Energi panas yang dilepaskan oleh uap air akan terkumpul menjadi energi penggerak dari badai tropis. Selain udara lembab juga diperlukan unsur-unsur lain seperti lautan hangat, adanya gangguan cuaca, dan angin yang bergerak naik membawa udara lembab. Bila unsur-unsur tersebut berlangsung cukup lama, maka terjadilah angin kencang, gelombang laut tinggi , hujan deras dan banjir yang mengikuti fenomena badai tropis. Sedangkan faktor-faktor yang dapat menimbulkan terjadinya badai tropis dapat dikatakan sebagai berikut :
2.1 Suhu air laut hingga kedalaman 50 meter lebih dari 26,5o Celsius. Perairan hangat merupakan sumber energi dari siklon tropis, sehingga ketika siklon tropis bergerak ke daratan atau perairan dingin maka kekuatan siklon tropis akan melemah secara drastic
2.2 Suhu pada atmosfer turun drastis dengan meningkatnya ketinggian. Penurunan suhu atmosfer secara drastis tidak memungkinkan perpindahan kelembaban udara secara konveksi.Aktifitas badai petir (thunderstorm) yang mendorong uap air melepaskan kandungan panasnya.
2.3Kondisi atmosfer yang tidak stabil yang memungkinkan terbentuknya awan Cumulonimbus. Awan-awan ini, yang merupakan awan-awan guntur, dan merupakan penanda wilayah konvektif kuat, adalah penting dalam perkembangan siklon tropis.
2.4 Gangguan atmosfer di dekat permukaan bumi berupa angin yang berpusar yang disertai dengan pumpunan angin.
2.5  Perubahan kondisi angin terhadap ketinggian tidak terlalu besar. Perubahan kondisi angin yang besar akan mengacaukan proses perkembangan badai guntur.
2.6  Jarak minimum 500 km dari katulistiwa.


3.    Proses Terjadinya Badai Tropis
Siklon tropis berputar di sekitar daerah bertekanan udara permukaan rendah. Dari seluruh tekanan udara pada ketinggian permukaaan air laut yang terukur maka tekanan udara di daerah siklon tropis merupakan yang terendah. Uap air yang naik ke atmosfir yang dingin akan mengembun dan melepaskan panas. Panas buangan tersebut didistribusikan secara vertikal pada bagian inti siklon tropis yang menyebabkannya terasa hangat. CDO (Central Dense Overcast)  merupakan daerah menyerupai pita melingkar di sekitar inti yang padat akan awan, hujan dan badai petir. Siklon tropis kuat seperti Hurricane memiliki mata yang berbentuk lubang melingkar di pusat sirkulasinya. Cuaca pada mata umumnya tenang dan tidak berawan. Diameter wilayah mata berkisar dari 8 hingga 200 Km. Pada siklon tropis lemah, CDO menutupi pusat sirkulasi sehingga mata tidak terlihat. Dinding mata menyerupai pita melingkar di sekitar mata yang memiliki intensitas angin dan konveksi panas paling tinggi. Pada siklon tropis, kondisi pada dinding matalah yang paling berbahaya. Pada bagian atas siklon tropis, angin bergerak keluar dari pusat badai tropis dengan arah putaran berlawanan dengan siklon, sedangkan pada bagian bawah angin berputar kuat, melemah seiring dengan pergerakan naik dan akhirnya berbalik arah.
4.    Wilayah Indonesia
Letak Astronomis suatu negara ialah letak suatu tempat didasarkan pada posisinya terhadap garis lintang dan garis bujur.Garis lintang merupakan garis-garis yang sejajar dengan khatulistiwa yang melintang mengitari bumi sampai daerah kutub.Sementara, garis bujur merupakan garis tegak yang berjajar menghubungkan wilayah kutub utara dan selatan.Garis-garis tersebut merupakan garis khayal yang dipergunakan sebagai pedoman untuk menunjukkan posisi suatu daerah di muka bumi.
Berdasarkan letak astronomisnya, Indonesia berada di antara 6° LU – 11° LS dan antara 95° BT – 141° BT. Wilayah Indonesia paling utara adalah Pulau We di Nanggroe Aceh Darussalam yang berada di 6° LU. Wilayah Indonesia paling selatan adalah Pulau Rote di Nusa Tenggara Timur yang berada pada 11° LS. Wilayah Indonesia paling barat adalah ujung utara Pulau Sumatera yang berada pada 95° BT dan wilayah Indonesia paling Timur di Kota Merauke yang berada pada 141° BT. 
Wilayah Indonesia terletak di sekitar khatulistiwa atau secara keseluruhan terletak di daerah lintasan timur dan berada di daerah tropis. Indonesia mempunyai panjang bujur 46° (sama dengan 118 keliling bumi) dan lebar lintang 17°.
Pengertian letak geografis adalah letak suatu negara dilihat dari kenyataan di permukaan bumi.Letak geografis disebut juga letak relatif, karena posisinya ditentukan oleh fenomena-fenomena geografis yang membatasinya. Menurut letak geografisnya Indonesia terletak di antara dua benua, yakni Asia dan Australia, dan di antara dua samudra, yakni Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.

BAB III
PEMBAHASAN

Badai merupakan sebutan dalam dunia klimatologi di mana cuaca berlangsung ekstrim. Dikatakan ‘badai tropis’ karena pemicu utamanya berasal dari perairan hangat di daerah tropis. Namun badai ini tidak terjadi tepat di katulistiwa, melainkan terjadi di daerah yang letak astronominya kurang dari 10 LU dan kurang dari 10 LS. Hal ini dikarenakan adanya efek korioli, yaitu efek pembelokan arah angin yang disebabkan arah rotasi bumi yang tidak benar-benar lurus.
Walaupun merupakan fenomena yang tumbuh di lautan, pergerakan siklon tropis dapat mengarah ke daratan sehingga dapat menimbulkan bencana serius dengan kerugian material dan korban manusia yang besar. Pergerakan Badai Tropis selalu menjauhi lintang ekuator, sehingga tidak mungkin melintasi daratan Indonesia, walaupun demikian wilayah Indonesia dapat terkena pengaruh tidak langsung dari badai tersebut.
Badai tropis adalah fenomena alam berupa hujan, pusaran angin, serta badai petir dalam suatu daerah yang memiliki tekanan udara rendah.Badai tropis juga sering disebut siklon tropis. Fenomena ini merupakan bencana alam yang memiliki efek kehancuran terbesar di dunia, daerah yang hanya terkena bagian ekornya saja juga akan mendapat imbasnya.
Siklon tropis hanya dapat tumbuh dan berkembang di atas wilaya perairan tropis dan sub tropis yang hangat dengan kelembaban udara tinggi, yang kemunculannya disertai dengan angin dan hujan dalam kecepatan dan intensitas yang sangat tinggi. Kekuatan angin yang terjadi pada Badai Tropis dapat mencapai kecepatan lebih dari 128 km/jam dengan jangkauan lebih dari 200 km bahkan lintasannya mencapai 1000 km dan diameter putaran hingga 500 km. Siklon tropis ini memiliki pusat putaran yang disebut mata siklon, berdiameter 10 km hingga 100 km yang dikelilingi oleh dinding awan padat setinggi 16 km. Siklon tropis ini dapat berlangsung selama 6 hari hingga lebih dari satu minggu.
Syarat utama untuk dapat tumbuh dan berkembangnya siklon tropis adalah
1.      Siklon tropis terbentuk pada lintang >10 derajat (LU & LS). Untuk daerah lintang equator seperti di Indonesia, Siklon Tropis hampir pasti tidak dapat terbentuk. Hal ini diakibatkan oleh efek rotasi bumi atau faktor Coriolli yang kecil di equator. Coriolli kecil berarti vortisitas(kecepatan putaran badai) juga kecil, sehingga Siklon Tropis tidak dapat terbentuk. Gangguan yang dapat terjadi di Indonesia, tapi pertumbuhan selanjutnya yaitu menjadi siklon tropis akan terjadi pada lintang tingg yang memiliki vortisitas lebih tinggi.
2.        Suhu muka laut(SST atau Sea Surface Temperatur) di atas ± 26,5oC Untuk suhu muka laut, di Indonesia dapat memenuhi. Akan tetapi faktor Coriolli lebih dominan, sehingga walaupun dengan suhu muka laut sekian, masi belum cukup untuk membentuk siklon tropis di perairan Indonesia.
3.        Adanya daerah perairan yang luas. Sumber energi utama dari suatu siklon tropis adalah uap air. Suatu tempat dengan kelembaban udara yang tinggi akan memiliki banyaknya kandungan uap air.Pelepasan panas kondensasi oleh awan-awan yang berpotensi menimbulkan badai merupakan sumber energi utama siklon tropis.Syarat tersebut dapat dipenuhi oleh daerah perairan ( lautan) di zona tropis dan subtropis yang temperaturnya dapat mencapai > 26oC
4.        Adanya gangguan dekat permukaan dengan vortisitas dan konvergensi mencukupi. Siklon tropis tidak terjadi secar tiba-tiba, akan tetapi memerlukan suatu sistem putaran dan aliran yang besar di dekat permukaan.
5.        Shear angin vertikal yang rendah di antara permukaan dan bagian atas troposfer (kurang dari 10 m/detik). Shear angin vertikal adalah besar perubahan angin terhadap ketinggian. Shear angin vertikal yang besar akan mengacaukan atau mengganggu siklon tropis yang baru saja terbentuk atau mencegah terjadinya pembentukan siklon tropis. Jika siklon tropis telah terbentuk, shear angin vertikal akan memperlemah atau menghancurkan siklon tropis tersebut dengan
6.        Adanya lapisan yang relatif basah dekat troposfer bagian tengah (pada ketinggian 5 km). Waktu hidup sebuah siklon tropis adalah dari beberapa jam hingga bertahan dua minggu, dan secara rata-rata waktu hidup siklon tropis adalah 6 hari dari waktu terbentuk hingga melebur.
Pada satu tahun di seluruh dunia terdapat rata-rata 80 kali peristiwa siklon tropis. Hampir seluruh siklon tropis tumbuh dan berkembang pada wilayah perairan di zona 30 derajat dari katulistiwa, yang disebut Zona Konvergensi Antara Tropis (ITCZ Intertropical Convergence Zone). Zona ini merupakan tempat terkumpulnya awan-awan hujan yang deras dan berhari-hari serta menimbulkan angin kencang.
Sumber utama energi raksasa penggerak badai tropis berasal dari proses kondensasi yakni mengembunnya kandungan uap air pada udara lembab yang bergerak naik ke ketinggian atmosfer yang dingin. Pada proses kondensasi, uap air akan melepas energi panas kandungannya. Energi panas yang dilepaskan oleh uap air akan terkumpul menjadi energi penggerak dari badai tropis. Selain udara lembab juga diperlukan unsur-unsur lain seperti lautan hangat, adanya gangguan cuaca, dan angin yang bergerak naik membawa udara lembab. Bila unsur-unsur tersebut berlangsung cukup lama, maka terjadilah angin kencang, gelombang laut tinggi , hujan deras dan banjir yang mengikuti fenomena badai tropis. Karena angin yang kencang tersebut membentuk pusaran maka seringkali disebut sebagai siklon tropis.
Siklon Tropis merupakan istilah yang masih bersifat umum. Selanjutnya menurut tingkat kematangan formasi bentuk dan kekuatannya, siklon tropis dapat diklasifikasikan atas:
1. Depresi Tropis (Tropical Depression)
 Pada depresi tropis sudah terjadi sistem tekanan rendah yang menyebabkan lingkaran awan dan badai petir pada suatu daerah tertutup namun belum terlihat bentuk spiral dan mata. Kecepatan angin berkisar dari 17 hingga 33 knot. Pada depressi tropis tidak diberikan nama yang khas
2. Badai Tropis (Tropical Storm)
 Pada badai tropis mulai terlihat bentuk spiral, namun tidak terlihat adanya mata. Kecepatan angin maksimum berkisar dari 17 hingga 33 meter per detik ( 34 s/d 63 knot, 39 s/d 73 mph atau 62 s/d 117 km/jam). Untuk Badai Tropis diberikan nama-nama yang khas untuk membedakan antara setiap kejadian badai tropis.
 Untuk memberi gambaran kekuatan dan dampak yang bisa dihasilkan oleh Badai Tropis / Hurricane maka dibuat pedoman skala kekuatan Hurricane. Skala yang umum digunakan adalah Skala Saffir-Simpson, yang dibagi atas lima kelas kategori , yakni
Dampak kerugian yang diakibatkan oleh Hurricane tidak mutlak bergantung pada tingkat skala kekuatan di atas. Wilayah kejadian (seperti daerah permukiman atau lautan terbuka) serta bencana alam susulan akibat dari Hurricane seperti banjir atau longsor, turut mempengaruhi besar kerugian dan korban manusia.
Penyebab Indonesia sebagai daerah tropis namun jarang terkena badai tropis :
1.      Adanya pengaruh korioli
Badai tropis begerak berbanding lurus dengan besar gaya coriolis bumi. Karena Indonesia berada di wilayah ekuator dengan sudut lintang rendah (besar lintang dinyatakan dengan tanda Sinus Ф), maka besarnya (hasil perhitungan) Sinus yang didapat mendekati nol. Hal ini menyebabkan badai tropis tidak mungkin melintasi wilayah Indonesia.
2.      Topografi Indonesia yang tidak memungkinkan
Indonesia bukan daerah lintasan badai, negara-negara yang seringkali menjadi lintasan badai adalah Amerika, Jepang, Australia, Filipina dan negara lainnya. Indonesia hanya akan terkena pengaruh tidak langsung yaitu berupa angin kencang, gelombang tinggi, dan hujan lebat pada daerah-daerah yang dekat dengan tempat timbulnya badai. Namun pengaruh badai ini tidak mutlak selalu terjadi.Timbulnya hujan lebat dan angin kencang karena pengaruh oleh posisi dan besarnya (intensitas) badai, tergantung pula pada faktor sirkulasi udara di wilayah Indonesia.Terkadang ketika ada indikasi tumbuh badai, pada beberapa wilyah kecenderungan cuacanya terlihat memburuk. Tetapi ketika badai itu sudah matang atau sudah diberi nama, yang timbul di Indonesia justru hanya angin kencang dan gelombang tinggi (kecuali daerah yang mempunyai radius 500 km dari pusat badai yang lebih sering mengalami hujan lebat). Kemudian di saat badai tersebut sudah menjauhi wilayah Indonesia atau ketika intensitasnya sudah melemah justru cuaca bagian Selatan cenderung banyak hujan lebat.Itu semua tidak mutlak terjadi, tergantung dari sirkulasi udara di atas wilayah Indonesia.

BAB IV
PENUTUP

1.1.       Simpulan
Badai merupakan sebutan dalam dunia klimatologi di mana cuaca berlangsung ekstrim. Dikatakan ‘badai tropis’ karena pemicu utamanya berasal dari perairan hangat di daerah tropis.
Sumber utama energi raksasa penggerak badai tropis berasal dari proses kondensasi yakni yakni mengembunnya kandungan uap air pada udara lembab yang bergerak naik ke ketinggian atmosfer yang dingin. Pada proses kondensasi, uap air akan melepas energi panas kandungannya. Energi panas yang dilepaskan oleh uap air akan terkumpul menjadi energi penggerak dari badai tropis. Selain udara lembab juga diperlukan unsur-unsur lain seperti lautan hangat, adanya gangguan cuaca, dan angin yang bergerak naik membawa udara lembab. Bila unsur-unsur tersebut berlangsung cukup lama, maka terjadilah angin kencang, gelombang laut tinggi , hujan deras dan banjir yang mengikuti fenomena badai tropis.
Siklon tropis berputar di sekitar daerah bertekanan udara permukaan rendah. Dari seluruh tekanan udara pada ketinggian permukaaan air laut yang terukur maka tekanan udara di daerah siklon tropis merupakan yang terendah. Uap air yang naik ke atmosfir yang dingin akan mengembun dan melepaskan panas. Panas buangan tersebut didistribusikan secara vertikal pada bagian inti siklon tropis yang menyebabkannya terasa hangat. CDO (Central Dense Overcast)  merupakan daerah menyerupai pita melingkar di sekitar inti yang padat akan awan, hujan dan badai petir.
Penyebab matinya sebuah siklon tropis adalah ketika siklon tersebut meninggalkan perairan pasokan energi uap air akan berkurang. Lalu ketika siklon menuju daratan lebih cepat dingin dari pada perairan sehingga udara naik menjadi lebih dingin. Selain itu contour atau topografi daratan yang dapat mengahambat aliran angin.
Indonesia hanya akan terkena pengaruh tidak langsung yaitu berupa angin kencang, gelombang tinggi, dan hujan lebat pada daerah-daerah yang dekat dengan tempat timbulnya badai. Namun pengaruh badai ini tidak mutlak selalu terjadi.Timbulnya hujan lebat dan angin kencang karena pengaruh oleh posisi dan besarnya (intensitas) badai, tergantung pula pada faktor sirkulasi udara di wilayah Indonesia.Terkadang ketika ada indikasi tumbuh badai, pada beberapa wilyah kecenderungan cuacanya terlihat memburuk. Tetapi ketika badai itu sudah matang atau sudah diberi nama, yang timbul di Indonesia justru hanya angin kencang dan gelombang tinggi (kecuali daerah yang mempunyai radius 500 km dari pusat badai yang lebih sering mengalami hujan lebat). Kemudian di saat badai tersebut sudah menjauhi wilayah Indonesia atau ketika intensitasnya sudah melemah justru cuaca bagian Selatan cenderung banyak hujan lebat.Itu semua tidak mutlak terjadi, tergantung dari sirkulasi udara di atas wilayah Indonesia.
2.1.       Saran
Meskipun Indonesia bukanlah daerah lintasan badai dan menerima pengaruh secara langsung, sebaiknya pemerintahan dan penduduk Indonesia dapat mempersiapkan diri untuk penanggulangan dari pengaruh badai tersebut.

 









DAFTAR PUSTAKA
Winarso, Paulus Agus. 2012. Kejadian alam langka di wilayah Indonesia, Giatnya Badai Tropis Kirrily Akhir bulan April 2009/27 April 2009, [Online]. Tersedia : http://amg.ac.id/pubs/jurnal/OpiniBadaiLangkaMunculdiMaluku.pdf (31 Oktober 2012)
Ahira, Anne. 2011. Angin Topan, [Online]. Tersedia : http://www.anneahira.com/angin-topan.htm (31 Oktober 2012)
Wijaya, Chandra Mukti. 2010. Siklon Proses Blogger, [Online]. Tersedia : http://www.4shared.com/get/gluSINYX/siklon_proses_blogeer.html (31 Oktober 2012)

Wijaya, Chandra Mukti. 2010. Siklon Tropis/ Tropical Cyclone, [Online].  Tersedia :

Pustekom. 2005. Badai Tropis, [Online]. Tersedia : http://soerya.surabaya.go.id/AuP/e-DU.KONTEN/edukasi.net/Fenomena.Alam/Badai/all.htm (31 Oktober 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar